6 WASIAT SAIDINA UMAR

6 WASIAT SAIDINA UMAR :

1. Jika engkau menemukan cela pada seseorang dan engkau mahu mencacinya, maka cacilah dirimu. Kerana, celamu lebih banyak darinya.

2. Bila engkau hendak memusuhi seseorang, maka musuhilah dahulu perutmu. Kerana, tidak ada musuh yang lebih berbahaya terhadapmu selain perut.

3. Bila engkau hendak memuji seseorang, pujilah ALLAH s.w.t.! Kerana, tiada seorang manusia pun lebih banyak dalam memberi kepadamu dan lebih santun lembut kepadamu selain DIA.

4. Jika engkau ingin meninggalkan sesuatu, maka tinggalkanlah kesenangan dunia. Sebab, andaikata engkau meninggalkannya, bererti engkau terpuji.

5. Bila engkau bersiap-siap untuk sesuatu, maka bersiaplah untuk mati. Kerana, jika engkau tidak bersiap untuk mati, engkau akan menderita, rugi penuh penyesalan.

6. Bilamana engkau ingin menuntut sesuatu, maka tuntutlah Akhirat. Kerana, engkau tak akan memperolehnya kecuali dengan mencarinya.

Friday, 11 May 2012

6 Wasiat Saidina Umar

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sollu 'alan Nabi.

6 WASIAT SAIDINA UMAR AL-KHATTAB

Suatu hari Umar Bin Khattab r.a. bertutur kepada sebahagian sahabatnya;Aku berwasiat kepadamu enam perkara :

Jika engkau menemukan cela pada seseorang dan engkau mahu mencacinya, maka cacilah dirimu. Kerana, celamu lebih banyak darinya.

Bila engkau hendak memusuhi seseorang, maka musuhilah dahulu perutmu. Kerana, tidak ada musuh yang lebih berbahaya terhadapmu selain perut.

Bila engkau hendak memuji seseorang, pujilah ALLAH s.w.t.! Kerana, tiada seorang manusia pun lebih banyak dalam memberi kepadamu dan lebih santun lembut kepadamu selain DIA.

Jika engkau ingin meninggalkan sesuatu, maka tinggalkanlah kesenangan dunia. Sebab, andaikata engkau meninggalkannya, bererti engkau terpuji.

Bila engkau bersiap-siap untuk sesuatu, maka bersiaplah untuk mati. Kerana, jika engkau tidak bersiap untuk mati, engkau akan menderita, rugi penuh penyesalan.

Bilamana engkau ingin menuntut sesuatu, maka tuntutlah Akhirat. Kerana, engkau tak akan memperolehnya kecuali dengan mencarinya.”

Wednesday, 9 May 2012

INDAHNYA SABAR

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sollu 'alan Nabi.


Ibrahim al-Khawwash rahimahullah berkata, “Hakekat kesabaran itu adalah teguh di atas al-Kitab dan as-Sunnah.” (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim [3/7]). Ibnu ‘Atha’ rahimahullah berkata, “Sabar adalah menyikapi musibah dengan adab/cara yang baik.” (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim [3/7]). Abu Ali ad-Daqqaq rahimahullahberkata, “Hakekat dari sabar yaitu tidak memprotes sesuatu yang sudah ditetapkan dalam takdir. Adapun menampakkan musibah yang menimpa selama bukan untuk berkeluh-kesah -kepada makhluk- maka hal itu tidak meniadakan kesabaran.” (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim [3/7])

Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, “Sabar secara bahasa artinya adalah menahan diri. Allah ta’ala berfirman kepada nabi-Nya (yang artinya), ‘Sabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang berdoa kepada Rabb mereka’. Maksudnya adalah tahanlah dirimu untuk tetap bersama mereka. Adapun di dalam istilah syari’at, sabar adalah: menahan diri di atas ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan untuk meninggalkan kedurhakaan/kemaksiatan kepada-Nya. …” (I’anat al-Mustafid bi Syarhi Kitab at-Tauhid [3/134] software Maktabah asy-Syamilah)
Macam-Macam Sabar
al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata, “Sabar yang dipuji ada beberapa macam: [1] sabar di atas ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla, [2] demikian pula sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada Allah ‘azza wa jalla, [3] kemudian sabar dalam menanggung takdir yang terasa menyakitkan. Sabar dalam menjalankan ketaatan dan sabar dalam menjauhi perkara yang diharamkan itu lebih utama daripada sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan…” (Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 279)
al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allah memiliki hak untuk diibadahi oleh hamba di saat tertimpa musibah, sebagaimana ketika dia mendapatkan kenikmatan.” Beliau juga mengatakan, “Maka sabar adalah kewajiban yang selalu melekat kepadanya, dia tidak boleh keluar darinya untuk selama-lamanya. Sabar merupakan penyebab untuk meraih segala kesempurnaan.” (Fath al-Bari [11/344]).
Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Adapun sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada-Nya, maka hal itu sudah jelas bagi setiap orang bahwasanya keduanya merupakan bagian dari keimanan. Bahkan, kedua hal itu merupakan pokok dan cabangnya. Karena pada hakekatnya iman itu secara keseluruhan merupakan kesabaran untuk menetapi apa yang dicintai Allah dan diridhai-Nya serta untuk senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya, demikian pula harus sabar dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah. Dan juga karena sesungguhnya agama ini berporos pada tiga pokok utama: [1] membenarkan berita dari Allah dan rasul-Nya, [2] menjalankan perintah Allah dan rasul-Nya, dan [3] menjauhi larangan-larangan keduanya…” (al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid, hal. 105-106)
Sabar merupakan akhlak para rasul
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah didustakan rasul-rasul sebelummu maka mereka pun bersabar menghadapi tindakan pendustaan tersebut, dan mereka pun disakiti sampai datanglah kepada mereka pertolongan Kami.” (QS. al-An’am: 34)

Sabar membuahkan kebahagiaan hidup
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Demi masa, sesungguhnya seluruh manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.” (QS. al-’Ashr: 1-3)
Umar bin Khatthab radhiyallahu’anhu mengatakan, “Kami berhasil memperoleh penghidupan terbaik kami dengan jalan kesabaran.” (HR. Bukhari secara mu’allaqdengan nada tegas, dimaushulkan oleh Ahmad dalam az-Zuhd dengan sanad sahih, lihatFath al-Bari [11/342] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)
Sabar penopang keimanan
Dari Shuhaib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik untuknya. Dan hal itu tidak ada kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan untuknya. Apabila dia tertimpa kesulitan maka dia pun bersabar, maka hal itu juga sebuah kebaikan untuknya.” (HR. Muslim [2999] lihat al-Minhaj Syarh Shahih Muslim[9/241])
Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu mengatakan, “Sabar adalah separuh keimanan.” (HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah dan al-Baihaqi dalam az-Zuhd, lihat Fath al-Bari [1/62] dan [11/342]). Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu mengatakan, “Sabar bagi keimanan laksana kepala dalam tubuh. Apabila kesabaran telah lenyap maka lenyap pulalah keimanan.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya [31079] dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman [40], bagian awal atsar ini dilemahkan oleh al-Albani dalamDha’if al-Jami’ [3535], lihat Shahih wa Dha’if al-Jami’ as-Shaghir [17/121] software Maktabah asy-Syamilah).
Sabar penepis fitnah
Dari Abu Malik al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “…Dan sabar itu adalah cahaya -yang panas-…” (HR. Muslim [223], lihat al-Minhaj Syarh Shahih Muslim [3/6] cet. Dar Ibn al-Haitsam tahun 2003). Ibnul Qayyimrahimahullah mengatakan, “… Fitnah syubhat bisa ditepis dengan keyakinan, sedangkan fitnah syahwat dapat ditepis dengan bersabar. Oleh karena itulah Allah Yang Maha Suci menjadikan kepemimpinan dalam agama tergantung pada kedua perkara ini. Allah berfirman (yang artinya), “Dan Kami menjadikan di antara mereka para pemimpin yang memberikan petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bisa bersabar dan senantiasa meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. as-Sajdah: 24). Hal ini menunjukkan bahwasanya dengan bekal sabar dan keyakinan itulah akan bisa dicapai kepemimpinan dalam hal agama. Allah juga memadukan keduanya di dalam firman-Nya (yang artinya), “Mereka saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.” (QS. al-’Ashr: 3). Saling menasehati dalam kebenaran merupakan sebab untuk mengatasi fitnah syubhat, sedangkan saling menasehati untuk menetapi kesabaran adalah sebab untuk mengekang fitnah syahwat…” (dikutip dari adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir yang disusun oleh Syaikh Ali ash-Shalihi [5/134], lihat juga Ighatsat al-Lahfan hal. 669)
Sabar membuahkan hidayah bagi hati
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah menimpa suatu musibah kecuali dengan izin Allah. Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.” (QS. at-Taghabun: 11)
Ibnu Katsir menukil keterangan al-A’masy dari Abu Dhabyan. Abu Dhabyan berkata,“Dahulu kami duduk-duduk bersama Alqomah, ketika dia membaca ayat ini ‘barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan menunjuki hatinya’ dan beliau ditanya tentang maknanya. Maka beliau menjawab, ‘Orang -yang dimaksud dalam ayat ini- adalah seseorang yang tertimpa musibah dan mengetahui bahwasanya musibah itu berasal dari sisi Allah maka dia pun merasa ridha dan pasrah kepada-Nya.” Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim di dalam tafsir mereka. Sa’id bin Jubair dan Muqatil bin Hayyan ketika menafsirkan ayat itu, “Yaitu -Allah akan menunjuki hatinya- sehingga mampu mengucapkan istirja’ yaitu Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” (Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [4/391] cet. Dar al-Fikr)
Hikmah dibalik musibah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila Allah menghendaki hamba-Nya mendapatkan kebaikan maka Allah segerakan baginya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan untuknya maka Allah akan menahan hukumannya sampai akan disempurnakan balasannya kelak di hari kiamat.” (HR. Tirmidzi, hadits hasan gharib, lihat as-Shahihah [1220])
Di dalam hadits yang agung ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan bahwa ada kalanya Allah ta’ala memberikan musibah kepada hamba-Nya yang beriman dalam rangka membersihkan dirinya dari kotoran-kotoran dosa yang pernah dilakukannya selama hidup. Hal itu supaya nantinya ketika dia berjumpa dengan Allah di akherat maka beban yang dibawanya semakin bertambah ringan. Demikian pula terkadang Allah memberikan musibah kepada sebagian orang akan tetapi bukan karena rasa cinta dan pemuliaan dari-Nya kepada mereka namun dalam rangka menunda hukuman mereka di alam dunia sehingga nanti pada akhirnya di akherat mereka akan menyesal dengan tumpukan dosa yang sedemikian besar dan begitu berat beban yang harus dipikulnya ketika menghadap-Nya. Di saat itulah dia akan merasakan bahwa dirinya memang benar-benar layak menerima siksaan Allah. Allah memberikan karunia kepada siapa saja dengan keutamaan-Nya dan Allah juga memberikan hukuman kepada siapa saja dengan penuh keadilan. Allah tidak perlu ditanya tentang apa yang dilakukan-Nya, namun mereka -para hamba- itulah yang harus dipertanyakan tentang perbuatan dan tingkah polah mereka (diolah dari keterangan Syaikh Muhammad bin Abdul ‘Aziz al-Qor’awi dalam al-Jadid fi Syarhi Kitab at-Tauhid, hal. 275.
Dipetik dari blog Dakwah Tauhid tulisan Abu Mushlih.
Pilihlah untuk bersabar...

Sunday, 6 May 2012

HEALTHY DIET

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sollu 'alan Nabi.

I'm not a nutritionist or so. But Alhamdulillah, with His Will, I have 'this' interest to know more about food and health. Basically, we need carbs, protein, vitamins, minerals and etc for our body. You are what you eat. If you love to eat deep fried food, than you'd probably end up with having high cholesterol level. If you are a sweet-tooth, you'd probably will have diabetes as all you eat have sugars in it. I'm not praying for you to have the disease, but that is the law. Sunnatullah. If you work for a healthy diet, insyaAllah, you'll be healthy too. All with Allah's Will.

So here is the list of food that is not so good for our body :

1. WHITE FOOD- can't live without nasi? Well it is one of the not so good food if you over-eat them. White rice, white bread, white sugar, white salt. I think we can always enjoy the food, but, with limitation. It is great if you can substitute the whites with other healthier options such as brown rice, wholemeal bread, himalaya salt, and substitute sugar with stevia, blackstrap molasses, Agave Nectar and etc.

2. High-sugar, oily, contain MSG, preservatives and processed foods. The more the food is being 'modified' with weird, long list and 'you-don't-have-a-clue-what-is-this-thing' ingredients, than it is probably not so good for you. As it has been combined with a chemical mixture that is NOT going to be so friendly with your stomach and overall health.

The best food is when you have them in their most natural form, like fruits, nuts, and vegies. Organic food is always the best choice as it is free from chemicals and pesticides. (but, organics tend to be expensive. sob. tanam sayur sendiri kat belakang rumah kalau rajin ;)) .Also very important to select Halal and Tayyib food. Do not go for 'healthy' food that is not halal or syubhah.

Keep in mind these simple keywords for a healthier food choice : Sugar-free, Flourless (white flour), No preservatives/ artificial flavourings/ colourings/ processed food. Avoid trans fats or hydrogenated fats, and go for the good fat/ unsaturated fats where you can get them from olive oil, nuts, avocados and Omega 3 fatty acids from cold-water fish, flax seed, and walnuts.

Do cook in a healthier way- avoid deep frying, too much santan, and MSG. Steam/ grill your food, and reduce the usage of cooking oil, sugar, and salt.



Rasulullah S.A.W was a very healthy, and strong man. He went to war when he was already in his late years. He loved honey, dates, habbatus sauda, milk, pomegranate/delima, olives, watermelon, barley, vinegar and etc. Read the sirah to find out more about Rasulullah's diet and the manners in Islam regarding eating food.

But these thing for sure, he never over-ate, always praise Allah before and after eating, did not lean while eating, never ate at a dining table (He sits on the floor with iftirasy), used his right hand, never wasted or gave bad comments about the food, and stop eating before he was full.

The other facts caught me is that, Rasulullah was never full for two days in a row, and he always fast (puasa). Fasting is a very good way to detoxification. That's explain why the Muslims at his time were strong, and healthy. They only ate when hungry, stopped before being full, fast, exercise (they always have to put more work for there were no steady/fast vehicles except camels,horses,donkeys. OR machines to help them doing their house chores. Besides, they were good at physical activity like archery, training horses and etc.) They follow Islam with discipline and whole-heartedly. They woke up in the middle of the night to perform Tahajjud and have strong faith in Allah. They were not materialistics or selfish, for their hearts were only for Allah and Islam. They have strong connections with Allah, optimistic and brave all throughout their lives.

I think that, the most important thing is to have a healthy soul (rohani), besides a healthy diet and lifestyle.
Only He can give us health, or disease. He Knows Best. We can always try and hope for the best, and for the rest of it, just leave it to Him. We must have faith that only Allah have the power to give us benefits, not the food/medication/supplement itself.

p/s:

DO NOT BUY DIMES FRUIT JUICE as I discover that the company that owns it also sells beer and alcohol. It is syubhah.



I suggest BIOGREEN because it ranges from organic goods with halal certificate from JAKIM. Try it's Pink Lady Oatmilk. Always read labels and opt for a halal, healthy, and affordable goods.



Thank you Allah. :) May all of us will have the strength to follow Rasulullah S.A.W in our everyday life. Eat in MODERATION ! (stop the idea of 'makan sampai kenyang'). InsyaAllah.

Hey, I still eat whatever I want. Sigh. Make doa for me to be strong enough to win over my 'nafsu makan'.. Thank You.

Saturday, 5 May 2012

PCOS

Bismillahirrahmaanirrahiim.


Sollu 'alan Nabi.


Polycystic Ovarian Sindrome (PCOS) Awareness.


It is the most common female endocrine (hormonal) disorder and is characterized by multiple abnormal ovarian cysts. Most ovarian cysts are harmless, fluid-filled sacs containing immature eggs that attach to the ovaries. But multiple cysts, with a typical appearance of "a string of pearls" or "pearl necklace", are a hallmark of PCOS. An estimated 5-10% of women of childbearing age are affected by Polycystic Ovarian Syndrome and it is one of the leading causes of infertility. Post-menopausal women can also suffer from Polycystic Ovarian Syndrome.





Most PCOS sufferers are overweight or obese. But women of normal weight and even lean females can also suffer from this insidious condition. 
Polycystic Ovarian Syndrome can be a silent killer. Since the symptoms of PCOS can vary so widely from woman to woman, doctors very often misdiagnose the condition. This oversight became a matter of critical concern after a study conducted in 2000 found that women suffering from PCOS have a higher risk of coronary heart disease.



Symptoms of Polycystic Ovarian Syndrome can include:



  • excessive weight gain and obesity
  •  irregular, heavy or completely absent periods
  •  ovarian cysts
  • excessive facial or body hair
  •  Alopecia (male pattern hair loss)
  • acne, skin tags (growths from the skin)
  •  Acanthosis Nigricans (brown skin patches) 
  • high cholesterol levels
  • exhaustion or lack of mental alertness
  •  decreased sex drive 
  • excess male hormones
  • Other symptoms also include sleep apnea ( breathing problems during sleeping), thyroid disorders and depression and anxiety.





p/s: the syndrom can lead to various problems, and as a woman, I hope we can take precautions like maintaining a well-balanced diet, exercise, and be sure to monitor our body condition. Do record your menstruation cycle so that you can refer to the dates whenever anything goes wrong. If you have the symptoms stated above, especially irregular or absent periods, feel free to see a doctor, but an OB/GYN (pakar sakit puan) is the best. The cause is usually related to imbalance hormones, thus it is a bit difficult to say whether you have the syndrome unless you have yourself checked by experts. 


Believe in Allah and have a Lovely Life. :)



Wednesday, 2 May 2012

emosi

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sollu 'alan Nabi.

Hati ini kadang-kadang lemah. Tak kuat. Kalah dengan perasaan.

"What's wrong with you?"

"Ha..tak ada apa-apa.." jawapan malas dilontarkan dengan nada emosional. Jika ditanya lagi pasti kan melenting.

Diam. Sepi. Bibir tak mampu mengungkap segala rasa dalam dada. Rasa yang mengundang dilema.

"Ikutkan emosi pasti mati.."

Diam. Emosi yang kacau-bilau mulai menurun ke paras normal. Tenanglah tenang. Orang yang mudah ikut perasaan petanda jiwanya lemah. Mudah kalah dengan nafsu amarah.

"Kita siapa?"

"Hamba Allah."

"Hamba Allah itu tugasnya apa?"

"Taat pada Allah..jauhi laranganNya.."

"What are you doing now?"

"Taat pada perasaan sendiri."

"What you should do then?"

"Ingat Allah, serahkan diri pada Dia..Semua yang jadi adalah dari Dia..Tidak akan bergerak satu zarah pun tanpa izin Allah.."

Seorang hamba itu urusannya adalah membuang 'kekuasaan dirinya'. Serahkan jiwa secara total kepada Zat Yang Maha Sempurna, Yang Mengatur Segala.

"Hakikatnya semua dari Dia. Usah difokuskan sangat pada 'jalan cerita'..main point-nya hanya Allah.."

La haula wala quwwata illa billah.